Selasa, 26 April 2011

Mary Queen of Heaven (1961)

Mary Queen of Heaven (1961)



 
A slender figure of Mary standing barefoot on a crescent, 
holding an orb between her hands at chest level. 
She wears robes, a crown, and a hooded cloak. 
The sculpture is mounted on a brick wall next to school entrance.

Save Outdoor Sculpture, Indiana survey, 1994.


 




Mary Queen of Heaven (1961)
http://farm5.static.flickr.com/4005/4459605347_c03e197cf6_o.jpg
http://static.panoramio.com/photos/original/33651040.jpg




BCHS Building
Bishop Chatard High School
5885 Crittenden Ave.
Indianapolis, IN 46220
Tel: (317) 251-1451 Fax: (317) 251-3648




Bishop Chatard High School is located on the northeast side of Indianapolis, on the corner of Crittenden Avenue and East Kessler Boulevard, East Dr.
It is just one stoplight west of the intersection of East Kessler Blvd and Keystone Avenue.


http://www.bishopchatard.org/aboutUs/Directions





Bishop Chatard High School is a Catholic co-educational preparatory high school located in the Broad Ripple district of Indianapolis, Indiana in the United States. It is named after Bishop Silas Chatard, who was the first Bishop of Indianapolis, and oversaw the movement of the diocese from Vincennes to Indianapolis in 1898.
http://en.wikipedia.org/wiki/Bishop_Chatard_High_School


 
building and entrance in Indianapolis, Indiana
Bishop Chatard Catholic High School is an Indianapolis school 


 
Photo of the side entrance to the Bishop Chatard Catholic High School 
on the north side of the Circle City.





Angelus

 


 

Sebagian besar umat Katolik Roma mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan serangkaian doa tiga kali dalam sehari. Rangkaian doa tersebut dikenal dengan “Doa Angelus” atau “Doa Malaikat Tuhan” Angelus didaraskan pada jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 petang. Nama Angelus diambil dari kata pertama dalam doa tersebut dalam bahasa Latin, artinya “Malaikat”. Beginilah bunyinya: Angelus Domini nuntiavit Mariae atau Malaikat Tuhan menyampaikan kabar kepada Maria.

 

Doa Angelus mungkin adalah suatu cara bagi umat beriman untuk berdoa bersama seperti dalam Breviary atau Ofisi, yaitu doa yang didoakan oleh para imam dan para anggota komunitas suatu Ordo Religius. Umat yang tidak dapat membaca, dapat menghafalkan doanya.

 

Doa Angelus sudah dimulai sejak tahun 1263 oleh Santo Bonaventura dalam Sidang Umum Ordo Fransiskan. Doa ini berkembang dari abad ke abad sampai dengan zaman Paus Yohanes XXII yang memberikan indulgensi kepada orang yang mengucapkan Doa Angelus.

 

Paus Pius V dalam tahun 1571 memperbaharui dan melengkapi bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada waktu itu, Doa Angelus diucapkan pada dini hari untuk menghormati kebangkitan Yesus, pada siang hari untuk menghormati sengsara Yesus dan pada senja hari untuk menghormati peristiwa Inkarnasi.

 


Di Italia, Doa Kemuliaan ditambahkan sesudah setiap Salam Maria untuk menghormati Tritunggal Mahakudus dalam hubungannya dengan Maria.
 

Paus Yohanes XXIII dalam catatannya tentang lonceng Angelus yang didentangkan pada pada pagi hari menggambarkan, lonceng dini hari merupakan tanda pergantian malam menjadi siang yang gemilang, pada saat itu langit menunduk untuk bertemu dengan bumi.
 

Paus Paulus VI dalam ensiklik “Marialis Cultus” menulis, “Doa ini sesudah berabad-abad tetap mempertahankan nilainya dan kesegaran aslinya.” Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa Doa Angelus tak perlu diubah sebab bentuknya sederhana, diangkat dari Injil, dan asal-muasalnya berkaitan dengan doa perdamaian dan misteri Paska.

 


Banyak keluarga Katolik dengan setia mengucapkan Doa Angelus pagi, siang dan malam hari. Juga di Indonesia, sejak puluhan tahun yang lampau, bila mendengar lonceng Angelus berbunyi, umat langsung meninggalkan segala kesibukannya untuk sejenak memanjatkan Doa Angelus. Pada Masa Paskah, Doa Angelus diganti dengan Doa Ratu Surga.
 

Dalam Doa Angelus, biasanya satu orang akan mengucapkan suatu kalimat dan yang lain memberikan tanggapan. Mengapa kita tidak mulai ikut mendoakannya juga?

 


Bapa Suci sendiri memimpin umatnya berdoa Angelus setiap hari Minggu siang.

 
Beginilah doanya:


 

 DOA RATU SURGA

 


Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.
 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.
 

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.
 

Salam Maria ....
 

Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita.

 


Salam Maria ....
 

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.
 

Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.


 

   DOA RATU SURGA (dalam Masa Paskah)

 

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,
sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya,
telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya!
Doakanlah kami pada Allah, alleluya!
Bersukacita dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,
sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya!


 
Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan PutraMu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama BundaNya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

 

sumber : 1. Kartu Doa Gereja Katolik Roh Kudus, Surabaya; 2. News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; disesuaikan dengan buku Puji Syukur; Komisi Liturgi KWI

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
  http://yesaya.indocell.net/id251.htm




SANTA PERAWAN MARIA : BUNDA BELAS KASIH


“Aku bukan saja Ratu Surga, melainkan juga Bunda Belas Kasih dan Bunda-mu (330)….”
“Aku Bunda bagi kalian semua, syukur kepada kerahiman Allah yang tak terselami (449)”


“Salam Ratu Tersuci, Bunda Belas Kasih….” Selama berabad-abad umat beriman menyapa Bunda Maria dengan gelar ini, dan sekarang, pada abad modern, Paus Yohanes Paulus II menghadirkan kembali di hadapan kita pentingnya peran unik Bunda Maria dalam rencana belas kasih Allah yang kekal. Dalam ensikliknya, Dives In Misericordia, Bapa Suci menyisihkan satu bagian yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria “Bunda Belas Kasih”. Dialah, menurut Bapa Suci, yang memiliki pemahaman paling mendalam akan belas kasih Allah, dialah yang, lebih dari segala manusia lainnya, layak dan pantas menerima belas kasih Allah. Dipanggil dengan suatu cara yang istimewa untuk ikut ambil bagian dalam misi Putranya dalam menyatakan kasih-Nya, Bunda Maria tak kunjung henti mewartakan belas kasih-Nya “dari generasi ke generasi”.

Bagi St Faustina, Bunda Maria adalah sumber belas kasih Allah yang tak habis-habisnya, sebagai bunda, pelindung, guru, dan perantara. Dari Santa Perawan, ia menerima karunia kemurnian yang istimewa, kekuatan dalam penderitaan, dan pengajaran-pengajaran yang tak terhitung banyaknya mengenai kehidupan rohani. “Bunda Maria adalah instrukturku,” tulis St Faustina, “yang senantiasa mengajariku bagaimana hidup bagi Tuhan (620)…. Semakin aku meneladani Bunda Allah, semakin aku mengenal Allah secara lebih mendalam (843)… sebelum setiap Komuni Kudus, dengan sungguh aku mohon Bunda Allah untuk menolong mempersiapkan jiwaku bagi kedatangan Putranya (114)…. Bunda Maria mengajarkan kepadaku bagaimana mengasihi Tuhan dari lubuk hati yang terdalam dan bagaimana melaksanakan kehendak-Nya yang kudus dalam segala hal (40)…. O Bunda Maria, Bunda-ku, aku menempatkan segalanya dalam tanganmu (79)…. Engkaulah sukacita, sebab melalui engkau, Allah turun ke dalam dunia (dan) ke dalam hatiku (40).”



Sumber: 1. “The Divine Mercy Message and Devotion” by Fr Seraphim Michalenko, MIC and Vinny Flynn; published by the Archdiocesan Divine Mercy Devotion, Singapore; 2. Marians of the Immaculate Conception; www.marian.org/divinemercy; 3.The Divine Mercy; www.thedivinemercy.org; 4. “Yesus Engkaulah Andalanku - Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh Stefan Leks; penerbit Kanisius 1993; 5. “Rasul Kerahiman Ilahi - Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh P. Ceslaus Osiecki, SVD, "Kemah Tabor", Pos Mataloko 86461 - Flores; 6. tambahan dari berbagai sumber

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
  http://yesaya.indocell.net/id849.htm



Memahami Dogma SP Maria Diangkat ke Surga
oleh: P. William P. Saunders *
 
Seorang teman Protestan mempertanyakan keyakinan kita, umat Katolik, mengenai Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
~ seorang pembaca di Sterling

Berbicara kepada khalayak gembira berjumlah lebih dari 500,000 orang yang memadati St Peter's Square, Paus Pius XII dengan khidmad memaklumkan dalam Munificentissimus Deus tanggal 1 November 1950, bahwa “Bunda Allah yang Tak Bernoda Dosa, Maria yang tetap perawan selamanya, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya.” Walau definisi khidmad baru dimaklumkan pada pertengahan abad keduapuluh, keyakinan akan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga menunjukkan dinamisme pewahyuan dan pemahaman Gereja yang terus-menerus mengenainya seperti dibimbing oleh Roh Kudus.

Memang, kata “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Namun demikian, pertama-tama kita patut berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan, sebab inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Kita percaya teguh bahwa sejak dari awal mula perkandungannya, karena kasih karunia istimewa dari Allah Yang Mahakuasa, Maria bebas dari segala noda dosa, termasuk dosa asal. Malaikat Agung St Gabriel mengenali Maria sebagai “penuh rahmat,” “terpuji di antara perempuan,” dan “bersatu dengan Tuhan.” Maria telah dipilih untuk menjadi Bunda Juruselamat kita. Dari kuasa Roh Kudus, ia mengandung Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui dia, sungguh Allah menjadi juga sungguh manusia, “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Sepanjang masa hidupnya, walau catatan dalam Injil amat terbatas, Maria senantiasa menghadirkan Tuhan kita kepada yang lain: kepada Elisabet dan puteranya, Yohanes Pembaptis, yang melonjak kegirangan dalam rahim ibundanya atas kehadiran Tuhan yang masih berada dalam rahim BundaNya; kepada para gembala yang sederhana dan juga kepada para majus yang bijaksana; pula kepada warga Kana ketika Tuhan kita meluluskan kehendak BundaNya dan melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Terlebih lagi, Maria berdiri di kaki salib bersama Putranya, memberi-Nya dukungan dan berbagi penderitaan dengan-Nya lewat kasihnya seperti yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibunda. Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus turun dan Gereja dilahirkan. Sebab itu, masing-masing dari kita dapat melihat serta merenungkan Maria sebagai hamba Allah yang setia, yang ikut ambil bagian secara intim dalam kelahiran, kehidupan, wafat dan kebangkitan Tuhan kita.

Suatu bukti penting lainnya dalam Kitab Suci yang menegaskan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (12:1). Ayat ini merupakan bagian dari bacaan pertama dalam Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Kendati aspek kronologis dari teks, Gereja telah menafsirkan ayat ini sebagai menunjuk kepada Bunda Maria yang telah diangkat ke dalam kemuliaan surga dan dimahkotai sebagai Ratu Surga dan Bumi, dan sebagai Bunda Gereja.

Karena alasan-alasan ini, kita percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada setiap kita akan keikutsertaan dalam hidup yang kekal, termasuk kebangkitan badan, digenapi dalam diri Maria. Sebab Maria bebas dari dosa asal dan segala konsekuensinya (salah satunya adalah kerusakan badan setelah kematian), sebab ia ikut ambil bagian secara intim dalam hidup Tuhan dan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, dan sebab ia ada saat Pentakosta, maka model dari pengikut Kristus ini sungguh pantas ikut ambil bagian dalam kebangkitan badan dan kemuliaan Tuhan di akhir hidupnya. (Patut dicatat bahwa definisi khidmad tersebut tidak menjelaskan apakah Maria wafat secara fisik sebelum diangkat ke surga atau langsung diangkat ke surga; hanya dikatakan, “Maria, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ….”) Katekismus, dengan mengutip Liturgi Byzantine, memaklumkan, “Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Putranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. `Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu'” (No 966).

Secara ringkas, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dari Konsili Vatikan Kedua mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (No 59).

Keyakinan akan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga telah lama ada dalam Gereja kita. Kita patut ingat bahwa Gereja Perdana disibukkan dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan seputar Kristus, teristimewa Inkarnasi-Nya dan persatuan hipostatik-Nya (persatuan ke-Allah-an dan kodrat manusiawi-Nya). Namun demikian, dalam membahas pertanyaan-pertanyaan ini, Gereja secara perlahan-lahan memaklumkan gelar-gelar bagi Maria sebagai Bunda Allah dan sebagai Hawa Baru, pula keyakinan akan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, yang kesemuanya itu merupakan dasar dari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Dalam Munificentissimus Deus, Paus Pius XII menyebutkan banyak Bapa Gereja dalam usaha menelusuri tradisi yang telah lama ada sehubungan dengan SP Maria Diangkat ke Surga - beberapa di antaranya St Yohanes Damaskus, St Andreas dari Crete, St Modestus dari Yerusalem dan St Gregorius dari Tours. Uskup Theoteknos dari Livias (± 550-650) menyampaikan salah satu dari khotbah awali yang paling mendalam mengenai SP Maria Diangkat ke Surga, “Sebab Kristus mengambil kemanusiaan-Nya yang tak bernoda dari kemanusiaan Maria yang tak bernoda; dan apabila Ia telah mempersiapkan suatu tempat di surga bagi para rasul-Nya, betapa terlebih lagi Ia mempersiapkannya bagi BundaNya; jika Henokh telah diangkat dan Elia telah naik ke surga, betapa terlebih lagi Maria, yang bagaikan bulan bercahaya cemerlang di antara bintang-bintang dan mengungguli segala nabi dan rasul? Sebab bahkan meski badannya yang mengandung Tuhan merasakan kematian, badan itu tidak mengalami kerusakan, melainkan dipelihara dari kerusakan dan cemar dan diangkat ke surga dengan jiwanya yang murni dan tak bercela.”

St Yohanes Damaskus (wafat 749) juga menuliskan suatu kisah yang menarik sehubungan dengan SP Maria Diangkat ke Surga, “St Juvenal, Uskup Yerusalem, dalam Konsili Kalsedon (451), memberitahukan kepada Kaisar Marcian dan Pulcheria, yang ingin memiliki tubuh Bunda Allah, bahwa Maria wafat di hadapan segenap para rasul, tetapi bahwa makamnya, ketika dibuka atas permintaan St Thomas, didapati kosong; dari situlah para rasul berkesimpulan bahwa tubuhnya telah diangkat ke surga.” Secara keseluruhan, para Bapa Gereja membela dogma SP Maria Diangkat ke Surga dengan dua alasan: Sebab Maria bebas dari noda dosa dan tetap perawan selamanya, ia tidak mengalami kerusakan badan, yang adalah akibat dari dosa asal, setelah wafatnya. Juga, jika Maria mengandung Kristus dan memainkan peran yang akrab mesra sebagai BundaNya dalam penebusan manusia, maka pastilah juga ia ikut ambil bagian badan dan jiwa dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

Kaisar Byzantine Mauritius (582-602) menetapkan perayaan Tertidurnya Santa Perawan Maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur. (Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa perayaan ini telah tersebar luas sebelum Konsili Efesus pada tahun 431.) Pada akhir abad keenam, Gereja Barat juga merayakan SP Maria Diangkat ke Surga. Sementara Gereja pertama-tama menekankan wafat Maria, secara perlahan-lahan terjadi pergeseran baik dalam gelar maupun substansinya, hingga pada akhir abad kedelapan, Sacramentarium Gregorian memiliki doa-doa bagi perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar sementara kita merenungkan satu sisi ini dari Bunda Maria. Maria menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, agar mengubah hidup kita melalui kurban dan penitensi, dan mencari persatuan abadi dalam kerajaan surga. Pada tahun 1973, Konferensi Waligereja Katolik dalam surat “Lihatlah Bundamu” memaklumkan, “Kristus telah bangkit dari mati; kita tidak membutuhkan kepastian lebih lanjut akan iman kita ini. Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”



* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Church in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Understanding the Assumption” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
  http://yesaya.indocell.net/id1110.htm


Maria Adalah Ratu Surga

8.10.87
Yesus?
Aku Yang Ada.

Yesus, aku ingin mengadakan silih atas setiap penghinaan yang diucapkan terhadap Bunda Suci kita. Aku tidak tahan mendengar penghinaan-penghinaan yang diucapkan oleh ciptaan-Mu terhadap Bunda itu, khususnya oleh para abdi-Mu. Aku lebih suka kepalaku dipenggal dan membela dia.

Vassula, Aku akan memberi pengertian kepadamu, betapa Kasih menderita kalau mendengar penghinaan-penghinaan itu. Vassula, hendaknya diketahui, bahwa Aku, Tuhan, menghormati Bunda-Ku. Biarlah diketahui oleh orang-orang yang menghina Bunda itu bahwa Ia adalah Ratu Surga dan bahwa di atas Kepalanya, Aku, Tuhan, telah meletakkan sebuah mahkota, mahkota dua belas bintang. Hai terkasih, ia meraja dan hal ini tercatat dalam Sabda-Ku 1. Aku menghormati Bunda-Ku dan seperti Aku menghormati dia, engkau pun harus menghormatinya. Aku mengasihi engkau, baik Bunda-Ku maupun Aku memberkati engkau.

Tuhan, pendeta itu tidak mau menerima dia sebagai Bunda Suci kami, bahwa kami harus menghormatinya. Ketika aku berkata kepadanya bahwa Engkau telah mengatakan hal ini di Salib, ia menjawab bahwa yang Kaumaksudkan ialah Yohanes saja dan bahwa dalam Kitab Suci tidak ada tertulis apa pun bahwa dia adalah Bunda kami juga atau bahwa kami ini anak-anaknya.

Tetapi lagi-lagi Kukatakan kepadamu, putri, bahwa Bunda-Ku adalah Bunda kalian juga. Kalian adalah anak-anaknya. Hal ini ada tertulis dalam Sabda-Ku dan Aku mengatakannya lagi bagi mereka yang tidak mengetahuinya. Kitab Suci mengatakannya.

Di mana, Tuhan?
Dalam Kitab Wahyu. Setelah Setan gagal mengejar Bunda-Ku, ia mengamuk terhadap dia dan keluar untuk berperang dengan sisa anak-anaknya, yaitu dengan mereka semua yang menaati Perintah-perintah dan yang menjadi saksi-saksi bagi-Ku. 2.

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena telah membantu aku.

Vassula, telah Kukatakan kepadamu, bahwa Aku selalu di depanmu. Biarlah engkau tetap kecil, supaya Aku dapat menggenapkan Karya-karya-Ku. Aku mengasihi Engkau.

Aku mengasihi Engkau, Tuhan, dan memberkati Engkau.

“Kita”?
Ya, Tuhan.


  1. Wahyu 12:1.
  2. Wahyu 12:17
Sumber:
Buku 'Hidup Sejati Dalam Allah', Jilid 1, Buku Catatan 16
Penerbit : Mega Media Abadi, Diterjemahkan dari 'True Life In God' oleh Unio Cordium Indonesia

http://www.amanatyesus.com/amanat/maria-adalah-ratu-surga/



Sejak tahun 1985, Tuhan Yesus menyampaikan amanat-amanat-Nya kepada Vassula Ryden, seorang wanita kelahiran Mesir berkebangsaan Yunani, beragama Kristen Ortodoks. Dia seorang wanita biasa, ibu rumah tangga, istri seorang staff PBB, dan mempunyai 2 orang anak. Catatan-catatan berisi amanat dari Tuhan Yesus ini dituliskan dalam buku yang berjudul Hidup Sejati dalam Allah, dan sudah cukup lama beredar di banyak negara, termasuk di Indonesia. Dalam bahasa Inggris, judul buku ini adalah True Life In God.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Vassula Ryden dan bagaimana cara dia menerima wahyu pribadi dari Tuhan Yesus, silakan kunjungi Uniocordium.org atau Tlig.org. Anda dapat juga men-download secara gratis Buku Hidup Sejati dalam Allah di website-website tersebut. Untuk membeli bukunya dalam bentuk hard copy, silakan ke Uniocordium.org.

http://www.amanatyesus.com/about/#more-14


Vassula Rydén was born in Egypt on January 18, 1942 into a Greek Orthodox family. She has composed messages she claims to have received from the Christian God in a series of books called True Life In God. There are currently over 107 Notebooks  compiled in 12 Volumes of the True Life in God series, which have been translated by volunteers into over 40 different languages. Since 1988, Vassula has been invited to speak in more than 70 countries and has given over 900 presentations. She receives no personal royalties, fees or benefit for her efforts.
  http://en.wikipedia.org/wiki/Vassula_Ryden

Yesus Kristus




Vassula Rydén (lahir di Mesir, 18 Januari 1942; umur 69 tahun) adalah seorang tokoh Mesir yang mengaku mengalami dua mimpi nubuat pada masa kecilnya dan 'penglihatan' terhadap Yesus sejak 1985. Dia telah menulis banyak pesan yang dia terima dalam buku yang disebut Hidup Sejati dalam Allah. Pada 2007 ada 107 buku dalam 12 seri "Hidup Sejati dalam Allah", yang telah diterjemahkan oleh para penerjemah ke dalam 42 bahasa yang berbeda. Sejak 1989 Vassula telah berpidato lebih dari 800 kali di lebih dari 63 negara dan lebih dari 90 kali di Amerika Serikat.

http://id.wikipedia.org/wiki/Vassula_Ryden









Mary, Mother of God and Queen of Heaven

In a lasting vestige of anti-Catholic prejudice, a concerted effort to discredit the Church is being made today by some non-Catholic Christians who continue to propagate the falsehood that Catholics worship Mary OR that the devotion to the Blessed Mother is a continuation of  devotion to the various mother goddesses of the ancient pagan pantheons. These charges can legitimately be called prejudices because they proceed from a prejudgment (made in advance based on preconceived ideas about what Catholics believe) and efforts to enlighten and convince with facts usually fall on deaf ears. However, it is necessary for Catholics to be forewarned about these on-going polemically, "prayer warfare" and "prophetic acts" (such as the smashing of a statue on Brazilian TV), so as not to be scandalized about their Catholic faith by such attacks.

Mother of God
 
One such claim is that calling Mary the Mother of God is a manifestation of the apostasy of Catholicism, which has returned to pagan mother goddess worship. This title, bestowed by the Council of Ephesus in 431, is seen as proof of Catholic apostasy from the Gospel. The historical facts underlying the Council do not dissuade those captured by this prejudice about the Church and its love of Mary, however, they clearly show the Church's intention to protect the doctrine of Christ's divinity and sacred humanity, the Incarnation, as well as give the proper due to she who fully cooperated in it by her Fiat (let it be done).
The fourth and fifth centuries, the first ones of Christian emancipation from persecution, were centuries of consolidating the truth about God and Christ. The Councils of Nicea (325) and Constantinople (361) defined the basic teachings of Christianity in the Creed which goes by their name (and which is obligatory at Sunday Mass), against those who in one manner or another denied the unity of God, and the Divinity of the Son ("one in substance with the Father") and of the Holy Spirit ("who proceeds from the Father and the Son"). It also asserted the true humanity of Christ "born of the Virgin Mary," thus protecting the Incarnation of the Word, the Word-made-flesh, from the assault of heretics like Arius. Jesus Christ was indeed the Eternal Son, a Divine Person, who united in Himself both a Divine and human nature.
However, some of those who remained in the Church after Nicea-Constantinople sought to mitigate the full force of these teachings by various equivocations. In 428 Archbishop Nestorius, the newly elected Patriarch of Constantinople, began to teach that Mary was indeed the Mother of Christ but was not the Mother of God, a title freely used in the Church. Although attempting to remain faithful to the Creed, that is professing belief in Christ's true Divinity and true humanity, Nestorius' writings, however, suggested that in Christ there was more of a moral unity of two persons, the Word and Jesus. In addition to the rebellion of the clergy and people, Nestorius had to contend with the attacks of St. Cyril of Alexandria, who finally submitted both Nestorius' writings and his own defenses   to Pope St. Celestine, who condemned Nestorius as a heretic.
Nestorius was only emboldened, teaching that Jesus was merely the temple of the Word, and if Mary is the Mother of God she has been made a goddess. His contemptuous remarks included, "a mother cannot bear a son older than herself." Both the Pope and Nestorius were desirous of a Council and so one was called in Ephesus in June of 431. However, Nestorius and his followers did not come, despite several summons, and after seven sessions to consider the matter the teaching of Nestorius, and some other heretics such as Pelagius, were condemned. Here is what the Council decreed:

111a   For we do not say that the nature of the Word was changed and made flesh, nor yet that it was changed into the whole man (composed) of soul and body but rather (we say) that the Word, in an ineffable and inconceivable manner, having hypostatically united to Himself flesh animated by a rational soul, became Man and was called the Son of Man, not according to the will alone or by the assumption of a person alone, and that the different natures were brought together in a real union, but that out of both in one Christ and Son, not because the distinction of natures was destroyed by the union, but rather because the divine nature and the human nature formed one Lord and Christ and Son for us, through a marvelous and mystical concurrence in unity. . . . For it was no ordinary man who was first born of the Holy Virgin and upon whom the Word afterwards descended; but being united from the womb itself He is said to have undergone flesh birth, claiming as His own the birth of His own flesh. Thus [the holy Fathers] did not hesitate to speak of the holy Virgin as the Theotokos (Mother of God). [Denzinger paragraph 111a]
 

113    Canon. 1.  If anyone does not confess that God is truly Emmanuel, and that on this account the Holy Virgin is the Mother of God (for according to the flesh she gave birth to the Word of God become flesh by birth), let him be anathema (condemned, i.e. excommunicated).


114    Can. 2. If anyone does not confess that the Word of God the Father was united to a body by hypostasis [union in a single Person] and that one is Christ with his own body, the same one evidently both God and man, let him be anathema.

115    Can. 3. If anyone in the one Christ divides the subsistences [divine and human natures] after the union, connecting them by a junction only according to worth, that is to say absolute sway or power, and not rather by a joining according to physical union [union in the one Christ], let him be anathema.

116    Can. 4. If anyone portions out to two persons, that is to say subsistences, the words in the Gospels and the apostolic writings, whether said about Christ by the saints, or by Him concerning Himself, and attributes some as it to a man specially understood beside the Word of God, others as befitting God alone, to the Word of God the Father, let him be anathema.

117    Can. 5. If anyone ventures to say that Christ is a man inspired by God, and not rather that He is truly God, as a son by nature, as the Word was made flesh and has shared similarly with us in blood and flesh, let him be anathema.

118    Can. 6. If anyone ventures to say that God or the Lord is the Word of Christ from God the Father and does not rather confess the same as at once both God and man, since the Word was made flesh according to the Scriptures, let him be anathema.


119    Can. 7. If anyone says that Jesus as man was assisted by the Word of God, and that the glory of the Only-begotten was applied as to another existing beside Him, let him be anathema.

... and so on
 
As can be seen, all of the decisions of this great Council, of which the title Mother of God was only the pricipitating issue, protect and defend this truth: Jesus Christ was NOT a mere man on whom the Word descended in some way or to whom the Word was united but distinct, rather He was the Divine eternal Person of the Word, who in time assumed a human nature of Mary, but  remained the Word, the One Christ, 2nd Person of the Trinity, uniting in Himself His Divine Nature and His Incarnate Human Nature.
In all, twelve canons defend and put outside Christian faith various propositions attacking the union of Christ's two natures in His One Divine Person. In a single brief statement the Council declares that Mary gave birth NOT to a mere man, human nature, but to a Divine Person who assumed our manhood. She is properly, then, the human Mother in time of God the Word,  and not just the Mother of Christ, a title any good new ager of our day could accept. By calling Mary the Mother of God, the Catholic Church establishes herself alone in the West, together with the Orthodox who separated from us in the 11th century, as doctrinally incapable of renouncing the union of the two natures in the one Person of the Eternal Word.

Is there a Scriptural Basis?
The Scriptural basis of the unity of God, the eternity of the Word and the Incarnation is actually sufficient in itself to arrive at the conclusion that Mary is the Mother of God. God gave us reason and guided by the Holy Spirit the Church comes to an ever deeper penetration of the profound depths of Divine Revelation (Jn 16:13), which being the Word of God cannot be exhausted by a bare-bones literal reading - "if it isn't explicitly in Scripture then it is revealed." By this logic most  prophetic matters referring to Christ in the Old Testament could be dismissed because they were hidden in types and presented as shadows. Thus the simple logic of the Church is that if Scripture reveals that Mary is the Mother of the Word-made-Flesh, and the Word-made-flesh is God, then Mary is the Mother of God (the Word), not from eternity of course, but beginning in time and for eternity. To say only that Mary is the Mother of Jesus or only the Mother of Christ, is to subscribe unwittingly to the doctrines of heretics who denied the unity of the Christ's Divine and Human Natures.
But is it in Scripture? Yes, in addition to the above way we find that God reveals to the heart of Elizabeth the truth about the Incarnation, God-made-flesh. When Mary arrives to assist her in her pregnancy with St. John the Baptist, on seeing the Blessed Mother St. Elizabeth declares,
"blessed art thou among women and blessed is the fruit of thy womb, how is it that the Mother of the Lord (mater tou kyrios) comes to me" (Lk 1:42-43).
In both the first half and the second half of this inspired address mother and child are inseparably united. In the first, Mary and the fruit of her womb, Jesus, are praised. In the second the unity of their relationship is revealed, as well as the unity of Christ. Mary is not merely the mother of Jesus the Messiah, somehow conceived, but the mother of the Lord. The text preserves the Greek, kyrios, although the language that would have been spoken was Aramaic. Among the Jews the name of God was not spoken, but a substitution was made to preserve respect. By convention when translating Hebrew and its sister language Aramaic into Greek, such as in the Greek Old Testament   (Septuagint) used to evangelize Greek-speaking Jews and gentiles, the word substituted for God's name was Kyrios, which we translate as Lord. This was in lieu of I AM, Christ's use of which for Himself would later scandalized the Jews. Elizabeth would never have been so bold, however, instead calling the fruit of Mary's womb, the Lord, with all the meaning which the Jews attributed to it and which the Catholic Church continues to understand of the Word-made-flesh in Mary's womb.

Queen of Heaven
Much is made of the title Queen of Heaven by those who attack Catholicism and Marian devotion. The allusion is always to the pagan pantheons and to the mother of the gods, often mother in a very carnal sense of other pagan deities. The Canaanite worship of the "Queen of Heaven" condemned by the prophets is mentioned, as is the worship of Diana of the Ephesians, devotion to whom was exceeding popular before the Gospel arrived among the pagans. It is said  that Catholicism at the Council of Ephesus restored this pagan devotion under the cover of devotion to Mary. The history of that Council given above shows the absurdity, and the intellectual dishonesty, of that claim! One might as well claim with respect to Jesus that Christians worship a mere man, since to arrive at this conclusion the Church's teaching must be ripped from its context and distorted to fit a preconceived judgement.
What then does it mean for Mary to be the Queen of Heaven? In the Old Testament monarchy the Queen of the Davidic Kingdom was the Queen Mother. The Kings, for reasons of state and human weakness, had many wives, none of whom fittingly could be called Queen. That honor was reserved for the mother of the King, whose authority far surpassed the many "queens" married to the king. We see this is the role Bathsheba played with respect to King Solomon and the occasions when the Queen Mother acted as regent on behalf of juvenile successors to the throne.
The role of the Queen Mother, therefore, is a prophetic type of the Kingdom role of Mary, just as the role of the Davidic King is a prophetic type of the Kingdom role of Jesus. Jesus inherited the Kingdom promised to David, who was told that one of his descendants would rule forever. The angel Gabriel revealed this fact to Mary at her Annunciation,
Behold, you will conceive in your womb and bear a son, and you shall name him Jesus. He will be great and will be called Son of the Most High, and the Lord God will give him the throne of David his father, and he will rule over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end." (Luke 1:31-33)
Aside from the prophetic types present in the Kingdom of Judah, there is also the text of Psalm 45, which when speaking of the Kingdom of God also speaks of its Queen.

[6]  Thy throne, O God, is for ever and ever: the sceptre of thy kingdom is a right sceptre. [7] Thou lovest righteousness, and hatest wickedness: therefore God, thy God, hath anointed thee with the oil of gladness above thy fellows. [8] All thy garments smell of myrrh, and aloes, and cassia, out of the ivory palaces, whereby they have made thee glad. [9] Kings' daughters were among thy honourable women: upon thy right hand did stand the queen in gold of Ophir. [10] Hearken, O daughter, and consider, and incline thine ear; forget also thine own people, and thy father's house; [11] So shall the king greatly desire thy beauty: for he is thy Lord; and worship thou him. (Psalm 45:6-11, KJV)

That Kingdom ruled by God is the same as the Kingdom ruled eternally by the Son of David. It is not an earthly kingdom, though it is present on earth in the Church, but a heavenly kingdom, the Kingdom of God. The Queen of that Kingdom is the Blessed Virgin Mary,  the Mother of the Lord God Jesus Christ.

  http://www.ewtn.com/expert/answers/mother.htm




According to Catholic doctrine, Mary was assumed into heaven and is with Jesus Christ, her divine Son. Mary should be called Queen, not only because of her Divine Motherhood of Jesus Christ, her only Son, but also because God the Father has willed her to have an exceptional role in the work of the eternal salvation of humanity. The papal encyclical Ad caeli reginam, argues that as Christ, because he redeemed humankind, is its Lord and king by a special title, so the Blessed Virgin Mary is Queen, on account of the unique manner in which she assisted in the redemption of humanity by giving of her own substance, by freely offering him by her singular desire and petition for, and active interest in, human salvation.
Quotes:
  • the main principle on which the royal dignity of Mary rests is without doubt her Divine Motherhood. In Holy Writ, concerning the Son whom Mary will conceive, We read this sentence: "He shall be called the Son of the most High, and the Lord God shall give unto him the throne of David his father, and he shall reign in the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end," and in addition Mary is called "Mother of the Lord"; from this it is easily concluded that she is a Queen, since she bore a son who, at the very moment of His conception, because of the hypostatic union of the human nature with the Word, was also as man King and Lord of all things. So with complete justice St. John Damascene could write: "When she became Mother of the Creator, she truly became Queen of every creature.".
  • Mary was chosen as Mother of Christ in order that she might become a partner in the redemption of the human race; As Christ, the new Adam, must be called a King not merely because He is Son of God, but also because He is our Redeemer, so, analogously, the Most Blessed Virgin is queen not only because she is Mother of God, but also because, as the new Eve, she was associated with the new Adam.
  http://en.wikipedia.org/wiki/Queen_of_Heaven


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar